Header Ads

ViralPetang.Com : Menyajikan Berita yang AKURAT, TERPERCAYA dan BERIMBANG. Dengan berbagai kategori berita pilihan dan terkini.

Dedolarisasi: "Negara-negara Muslim buang Dolar, dan Pilih Emas"

Dia mengatakan prioritas semua negara Islam harus meminimalkan utang luar negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik.

Jakarta - Sejumlah negara islam seperti Iran, Malaysia, Turki, dan Qatar sedang mempertimbangkan untuk membuka jalur perdagangan sendiri menggunakan emas. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menjelaskan perdagangan akan menggunakan skema barter sebagai salah satu langkah lindung nilai atau hedging.

Namun sejumlah ahli meragukan rencana itu. Profesor ekonomi di Universiti Malaya, Nazari Ismail misalnya, mengatakan Arab Saudi tidak tertarik pada gagasan itu karena merupakan negara yang berpengaruh di dunia Muslim dan merupakan negara tuan rumah dari Organisasi Kerjasama Islam.

Nazari mengatakan Indonesia dan Pakistan mungkin juga tidak akan tertarik, jika benar bahwa kedua negara tidak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Kuala Lumpur karena tekanan kuat dari Arab Saudi.

Dia juga mengatakan Qatar mengekspor banyak gas alam dan kemungkinan akan lebih suka menggunakan dolar AS. Sementara sektor swasta Turki memiliki utang luar negeri yang besar dan hampir seluruhnya dalam mata uang dolar AS.

"Dengan kata lain mereka akan membutuhkan banyak dolar AS untuk membayar kembali utang mereka dalam mata uang dolar," katanya dikutip detikcom dari Malaysia Today, Jumat (27/12/2019).

Nazari mengatakan sektor swasta di semua negara, termasuk negara-negara Muslim tertarik pada transfer uang internasional yang cepat dan efisien, yaitu dolar AS.

Dia mengatakan prioritas semua negara Islam harus meminimalkan utang luar negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik.

"Jika utang luar negeri tinggi, maka posisi tawar Anda akan sangat lemah. Pakistan mengilustrasikan hal ini dengan sangat baik karena negara itu tidak mampu menahan tekanan Saudi karena membutuhkan bantuan keuangan Arab Saudi untuk mengatasi kondisi utangnya," lanjutnya.

Sementara itu, analis dan konsultan bisnis Hoo Kee Ping mengatakan Mahathir belum mendefinisikan jenis emas yang akan digunakan untuk dinar, apakah emas fisik, emas berjangka atau emas digital.

"Dengan asumsi jika dia mengacu pada emas fisik, di mana kita menemukan banyak emas untuk mendukung uang kertas," katanya, sambil menunjukkan bahwa salah satu alasan Depresi Besar tahun 1930-an adalah ketergantungan pada mata uang yang didukung dengan emas.

Dia mengatakan sulit bagi dunia untuk menghindari dolar AS sebagai mata uang internasional. Eropa telah mencoba dengan menciptakan mata uang Euro tetapi gagal untuk menantang dolar AS.

Mantan kepala ekonom RAM Holdings, Ya Kim Leang, lebih tertarik jika gagasan yang dibuat adalah "mata uang multi-bilateral" untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.

Misalnya, Malaysia dan Saudi dapat menyepakati untuk menggunakan mata uang dinar yang sama.

"Itu mungkin karena Saudi kaya minyak. Tapi itu tidak harus berdasarkan emas," katanya.

Malaysia juga bisa bekerja sama dengan Eropa untuk menggunakan Euro, begitupun dengan China.

"Ini lebih bisa diterapkan untuk memiliki beberapa pertukaran mata uang bilateral untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS," tambahnya.

(finance.detik.com)

Tidak ada komentar

Tulis Komentar Anda yang Baik & Sopan

Indospace Adalah Jasa All In One Pertama di Bandar Lampung