Header Ads

ViralPetang.Com : Menyajikan Berita yang AKURAT, TERPERCAYA dan BERIMBANG. Dengan berbagai kategori berita pilihan dan terkini.

TEC Optimis Maju Pilkada Lamsel

Dalam Islam, orang baik harus menjadi pemimpin, tapi tidak boleh cinta dan bernafsu untuk dijadikan pemimpin. Sederhananya tidak boleh gila jabatan. Hal ini sudah dicontohkan oleh para pemimpin Islam terdahulu. Contohnya, Umar bin ‘Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah (pemimpin umat Islam), beliau menangis dan mengatakan ‘Innalillahi wa Innalillahi raji’un’. Bukan ‘Alhamdulillah’. Sebab menurut beliau, menjadi pemimpin adalah musibah. Bukan nikmat.


Toni Eka Chandra, yang kental dengan aktifitas organisasi FKPPI, Granat, dan Karate itu 30 tahun lebih menduduki kursi legislatif mulai dari Kota Bandar Lampung hingga Provinsi Lampung menyatakan adanya pemimpin adalah sebuah keniscayaan. Sunnatullah yang tidak bisa dihindarkan. Di mana ada sebuah komunitas, di situlah pasti ada pemimpin.

“Baik diangkat secara resmi atau terangkat secara alami. Coba lihat segerombolan anak kecil, pasti ada satu anak yang memegang kendali. Memimpin teman-temannya. Sehingga, mereka mematuhi keputusan-keputusannya,” kata Ketua Fraksi Partai Golkar Lampung di DPRD Provinsi Lampung, saat bincang santai dengan wartawan, di sela fit proper tes calon pilkada, Selasa 21 Januari 2020.

Namun, kata Toni, masalah kepemipinan tidak sesederhana itu. Tiba-tiba jadi pemimpin. Tidak. Pemimpin adalah sosok pilihan yang akan bertanggung jawab pada semua anggotanya. Baik dan tidaknya sebuah komonitas, tergantung pemangku kendali. Dengan kata lain, pemimpin adalah sentral dalam kemajuan kelompok.

Adagium Arab mengatakan, rakyat tergantung agama rajanya”. Secara tidak langsung, adagium itu mengatakan bahwa sebuah komunitas akan baik jika pemimpinnya baik, akan jelek jika pemimpinnya jelek. Tentu, ketergantungan rakyat kepada pemimpin mencakup segala hal. Kesejahteraan dunia dan kebaikan agama.

“Rasulullah pernah mengatakan, Jika sebuah urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat. HR. Imam Bukhari. Hadis ini bisa diartikan bahwa jika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak pantas menjadi pemimpin, hancurlah orang-orang yang dipimpinnya,” kata Toni, sesekali menghisap rokok khasnya.

Dalam Islam, orang baik harus menjadi pemimpin, tapi tidak boleh cinta dan bernafsu untuk dijadikan pemimpin. Sederhananya tidak boleh gila jabatan. Hal ini sudah dicontohkan oleh para pemimpin Islam terdahulu. Contohnya, Umar bin ‘Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah (pemimpin umat Islam), beliau menangis dan mengatakan ‘Innalillahi wa Innalillahi raji’un’. Bukan ‘Alhamdulillah’. Sebab menurut beliau, menjadi pemimpin adalah musibah. Bukan nikmat.

“Akan tetapi, tanggung jawab beliau pada tugasnya tidak diragukan lagi. Dalam waktu dua tahun beliau sudah bisa memperbaiki negara. Beliau sosok pemimpin yangn baik dan adil. Konon, karena keadilan beliau, kambing dan serigala menjadi teman. Ketika cucu Sayydina Umar bin Khattab itu meninggal, serigala menjadikan kambing sebagai makanan,” urainya.

Karenanya, pemimpin muslim harus mencontoh pemimpin-pemimpin terdahulu. Tidak cinta jabatan, tapi kalau diberi tanggung jawab maka akan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw. juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin. Seorang suami pemimpin keluarganya. Seorang istri pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya. Maka setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.HR. Muttafaq Alaih,” kata Toni.

Pemimpin harus adil. Harus melaksanakan tugas untuk kebaikan yang dipimpinnya. Baik yang berikaitan dengan dunia atau akhirat. Bahwa setiap orang yang mendapatkan amanah menjadi pemimpin harus mengerahkan kemampuan untuk menjaga amanah itu. Sebab, kelak akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang ada dalam amanahnya.

“Dengan demikian, pemimpin yang tidak amanah adalah berdosa. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab juga berdosa. Jika ada satu orang saja tidak baik, maka pemimpin kelak yang akan ditanya. Jika ada satu orang saja terlantar, tidak mendapatkan apa yang harus dia dapatkan, maka pemimpin yang akan mempetanggung jawabkannya di hadapan Allah, mau masuk surga, ada rakyatnya yang kelaparan saaat mempimpi, maka tertunda surganya. Nabi bersabda, Seseorang yang dijadikan pemimpin, tapi tidak menjalankannya dengan baik, maka dia tidak akan mencium harumnya surga,” ujar mantan ketua Tim Pemenangan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi ini.(Tion)

Tidak ada komentar

Tulis Komentar Anda yang Baik & Sopan

Indospace Adalah Jasa All In One Pertama di Bandar Lampung