Header Ads

ViralPetang.Com : Menyajikan Berita yang AKURAT, TERPERCAYA dan BERIMBANG. Dengan berbagai kategori berita pilihan dan terkini.

Menongkah Gelembung Teror Al Haq

Menongkah Gelembung Teror Al Haq

 

ViralPetang.com (12/11/2020) Jakarta Timur --- RAUNGAN sirine mobil jenazah memecah hening Gang Swadaya Jalan Pinang Ranti II, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Cahaya merah-biru rotator mengusik gulita yang bergelayut pada Minggu malam, 8 April 2018. Iwan Gunawan, pria 30 tahun berbadan kerempeng duduk di sisi sopir. Kedua tangannya mendekap bayi merah berbalut bedong putih.

Mata bengkaknya memandang sayu jalanan yang terhampar. Kaos oblong lembab oleh air mata dan keringat. Sisa tangis Iwan di RS Polri Jakarta Timur, terlihat jelas. Dokter menyatakan istrinya, Suwarni, meninggal setelah melahirkan anak pertama mereka.

Mobil berhenti di depan bedeng sederhana. "Kita sampai di rumah, Nak," bisik Iwan parau pada bayi perempuan yang terlelap. Langkahnya gontai memasuki kontrakan diikuti sang mertua yang baru datang dari Way Kanan, Lampung.

“Istri saya dikubur di Cipayung, Jakarta Timur. Setelah pemakaman, mertua langsung pulang ke Lampung. Bayi saya dibawa. Ibu mertua bilang Suwarni meninggal karena saya," tutur Iwan kepada Lampung Post, akhir Oktober 2020.  

Kematian istri dan kepergian anaknya, menjadi hantaman keras bagi pria kelahiran Tegal, 19 Juni 1987 itu. Seketika ia menyadari kekeliruannya. Kesatuan Al Haq yang diikuti selama ini justru menyiksa keluarganya dengan teror dan ancaman. Intimidasi itu merenggut ketenangan, bahkan hidup istrinya.

Iwan mengklaim Kesatuan Al Haq melancarkan teror saat istrinya menyatakan undur diri dari keanggotaan kelompok. "Tadinya saya dan istri anggota Al Haq. Waktu hamil tujuh bulan, istri saya keluar biar bisa istirahat. Tapi Al Haq malah neror istri saya, dibilang penghianat, mati masuk neraka. Istri yang hamil tua jadi depresi dan ketakutan," kisahnya. 

Kelompok itu tidak rela melepas Suwarni yang bertahun-tahun menjadi koki bisnis kuliner Al Haq di Mal Tamini Square, Jakarta Timur. Suwarni ialah salah satu motor penggerak bisnis Al Haq. Sementara Iwan, berperan sebagai perekrut anggota baru.

Dengan logat 'ngapak' yang kental, Iwan mengisahkan awal terjerat Al Haq pada 2007. Lulus SMA, ia mengadu nasib ke Ibu Kota dan menjadi karyawan di Hari Hari Swalayan, Bekasi Timur. 

Baru sebulan di rantau, Iwan dicegat orang tak dikenal saat berjalan sendirian ke masjid. Orang asing itu mengajak berkenalan. "Namanya Sulaiman. Dia tanya apa saya punya saudara polisi atau TNI. Saya bilang, enggak ada. Malamnya, Sulaiman jemput saya dari indekos dan ngajak ke rumahnya untuk ngaji bersama," kisahnya.

Di rumah Sulaiman, ada beberapa pemuda lainnya yang berasal dari Cimahi, Lampung, dan Palembang. Selain mengaji, Sulaiman mengajak Iwan diskusi tentang Pancasila dan negara. "Al Haq bilang Pancasila itu thaghut alias berhala. Semua orang di luar Al Haq adalah kafir. Semua orang harus hijrah ke Al Haq, kalau tidak, salat dan puasanya sia-sia," kata Iwan.

Sejak itu, Al Haq sukses menguasai hidup Iwan. Bahkan, ia diwajibkan menyerahkan semua harta. Diimingi surga dan bidadari, Iwan menuruti titah itu. Tidak jarang ia harus menahan lapar karena tidak lagi memiliki uang setelah semua gaji diserahkan ke Al Haq. 

"Kata mereka, gaji itu sebagai sedekah untuk menyucikan saya yang baru berhijrah," tutur dia. Selanjutnya, Iwan menjalani prosesi hijrah. Matanya ditutup. Iwan dinaikkan ke mobil menuju tempat rahasia. Setelah tiba, barulah penutup matanya dibuka. Di tempat itu, Iwan diminta memilih satu dari tiga nama yang ditawarkan. "Mereka bilang nama dari orang tua adalah batil, jadi harus diganti. Saya pilih nama Taufan Mustofa. Lalu saya disumpah dan nama itu dipakai sebagai identitas di kesatuan Al Haq," terangnya.

Sejak itu, ia mengundurkan diri dari Hari Hari Swalayan dan mengabdi penuh pada Al Haq. Iwan dilarang berkomunikasi dengan keluarga. "Saya jalanin bisnis Al Haq, nawarin herbal di mal. Bisnis itu untuk mencari uang sekaligus menambah anggota," kata Iwan.

Hidupnya makin berat. Namun di tengah beratnya hidup di bawah bayang  Al Haq, ia teringat doktrin kesatuan yang menyatakan jika hidup terasa semakin sulit artinya derajatnya sedang ditinggikan. Dengan patuh Iwan tetap melakukan tugasnya menjaring anggota baru. Modusnya berkenalan dan meminta kontak orang sebanyak-banyaknya sebagai database. "Data yang terkumpul bakal di-follow up anggota lain. Pimpinan bilang salat lima waktu tidak wajib. Yang wajib itu menjalankan perintah Al Haq," tuturnya.

Pada 2015 Iwan bertemu Suwarni yang sudah lebih dulu bergabung di Al Haq. Pertemuan itu berlanjut pada pernikahan yang sebenarnya dilarang oleh kesatuan. Namun Iwan berjanji akan semakin loyal pada kelompok hingga pimpinan Al Haq merestui. 

Puncaknya, saat sang istri yang hamil 7 bulan berhenti dari Al Haq. Kelompok itu meradang. Suwarni diklaim penghianat, kafir, dan akan masuk neraka. Iwan tak kuasa melindungi Suwarni dari teror yang datang setiap hari. Suwarni hidup dalam ketakutan. Hingga saat persalinan tiba, Suwarni semakin lemah dan terintimidasi. Sesaat setelah melahirkan, Suwarni pergi untuk selamanya.

"Saya merenung. Betapa jahat Al Haq dengan semua doktrinnya. Istri saya sampai meninggal dalam suasana batin yang tidak tenang. Saya sadar, semua ajaran Al Haq itu isinya intoleransi, yang lainnya dianggap kafir," urai Iwan.

Ia pun makin sadar bahwa Al Haq telah merampas kehidupan normalnya. Dengan segenap daya ia melepaskan diri dari cengkraman kelompok itu. Namun, jalan Iwan membebaskan diri dari kelompok radikal tidaklah mulus. Selepas dari Al Haq, ia nyaris kembali terjerat kelompok sejenis.

Dunia maya menjadi lahan subur kelompok radikal memanen mangsa. "Banyak situs radikal yang bermodus menawarkan belajar ngaji gratis. Harus hati-hati milih. Ada teman saya yang sudah keluar dari Al Haq, malah terjebak kelompok lain," kata Iwan. 

Kini ia bekerja sebagai penjual herbal keliling. Sambil berpegang teguh pada 4 pilar kebangsaan, Iwan berharap suatu saat bisa hidup bersama dengan anak perempuannya.

Membenturkan Sistem

Mantan pentolan Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan mengatakan kelompok radikal membenturkan sistem dan hukum negara dengan hukum Islam serta Al-Quran. Ayat Al-Quran ditafsirkan sesuai kepentingan kelompok sebagai modal memperluas jejaring bak gaya Multi Level Marketing ke perguruan tinggi hingga lembaga pemerintah.  

Kelompok itu memiliki SDM cerdik perancang konten propaganda dan ujaran kebencian yang disebar lewat media sosial. Kelompok radikal umumnya menggunakan jurus lima banding satu. Bila sasaran korban laki-laki, maka disiapkan lima orang perekrut wanita yang punya hobi sama. Tujuannya agar calon korban merasa nyaman.

Korban yang sudah terjerat akan rela melakukan perintah kelompok meski harus mengorbankan diri. "Namun, setelah menyadari kekeliruannya bergabung dengan kelompok radikal, para korban ini merasa malu dan takut untuk melapor ke aparat. Jadi dilematis. Karena itu, hanya segelintir kecil yang berani melapor," tutur pendiri NII Crisis Center itu.

Ken berharap orang-orang yang baru keluar dari kelompok radikal segera mendapat penanganan serius dari pemerintah. "Jangan hanya eks napiter, tapi orang-orang mantan anggota kelompok radikal juga harus dibidik untuk mengikuti deradikalisasi. Jika dibiarkan, mereka ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Mereka sudah matang dalam doktrinasi," ujarnya.

Sasaran rekrutmen kelompok radikal saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Saat ini, kelompok radikal akan merangkul korban yang memiliki saudara ASN, polisi, dan TNI. Hal itu menambah kepercayaan diri kelompok. Taman, kafe, mal, hingga kampus menjadi lokasi rekrutmen. "Kelompok itu akan mengajak berkenalan dan minta data, termasuk akun media sosial. Itu untuk skrining calon anggota, istilah mereka," kata Ken.

Mereka tidak lagi punya ciri khas seperti celana cingkrang dan menyerukan kafir. Kelompok radikal hari ini bak bunglon yang lihai beradaptasi. Untuk kalangan akademisi, jaringan masuk melalui kelompok alumni. Di mal, mereka kerap berdiri di dekat ATM minta sumbangan. Dalihnya untuk duafa dan anak yatim. Kalangan itu mencoreng kelompok sosial murni.

Secara khusus, Ken menyebut Lampung sebagai zona merah aksi terorisme. "Di daerah ini ada sejumlah kelompok radikal. Lampung ini tempat diskusi. Mereka kebanyakan beraksi di luar," ujarnya. Berdasar data, Densus 88 Antiteror Mabes Polri kerap menangkap terduga teroris di Lampung. Pada akhir Maret 2019, Densus menetapkan dua warga Lampung sebagai tersangka jaringan radikal atau terduga teroris. Mereka ialah Kus (35), warga Dusun Candi Sari I, Desa Gunungrejo, Way Ratai, Pesawaran yang ditangkap di Desa Tata Karya, Abung Surakarta, Lampung Utara, dan Ri (20) warga Penengahan Raya, Kedaton, Bandar Lampung.

Pada Oktober 2019, kepolisian menangkap Noval Agus Syafroni di kantor Khilafatul Muslimin, Telukbetung Selatan. Selain Noval, empat orang lain yang turut diamankan yakni Rifki, Aul Putra Daulah atau arif Hakim, Yunus, dan Tri. Densus juga menggeledah rumah di Jalan Gunung Demlo, No. 204 Sawit Raya, Perumnas Way Halim, Bandar Lampung.

Masih di bulan itu, Densus kembali mengamankan terduga jaringan teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) bernama Guntur, di Tanjungsenang, Bandar Lampung. Selanjutnya, Densus memburu terduga teroris Rico, yang rumahnya di Jalan Jenderal Suprapto, Kelurahan Pelita, Kecamatan Enggal, Bandar Lampung. Rico disinyalir anggota JAD, dan membentuk kelompok yang berbaiat dengan Abu Bakar Al Bahgadi.

Pada November 2019, Densus menangkap terduga jaringan JAD Al Faruq alias Al Farisi (21) di Bandar Sribhawono, Lampung Timur. Selain itu, ada pula Subhan Saruri alias Ruri (44), yang merupakan kaki-tangan Ujang, pimpinan JAD Lampung. Sementara pada awal November 2020, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap empat terduga teroris asal Pringsewu, Bandar Lampung, dan Metro.

"Sayangnya, radikal dalam pikiran belum dianggap berbahaya oleh pemerintah. Buktinya, belum ada radikalisasi yang menyasar kalangan yang terlanjur terpapar paham radikal. Padahal, itu pondasi terorisme," tegas Ken.

Terkait hal itu, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan intoleransi cikal bakal radikalisme dan terorisme. Menurut dia, Polda terus memantau beberapa kelompok radikal agar tidak menjadi ambang gangguan dan gangguan nyata. "Kami memperkuat fungsi Bhabinkamtibmas untuk bermitra dengan masyarakat menjaga keamanan," ujarnya.

Anjau Silau

Tokoh Lampung Ike Edwin menyerukan urgensi pembentukan satgas anti-terorisme dan radikalisme mulai dari akar rumput. Satgas berjenjang mulai dari provinsi hingga tingkat desa atau kelurahan. "Satgas tersebut bisa mengadopsi nilai kearifan lokal Lampung yakni anjau silau yang berarti silaturahmi. Ini metode paling tepat untuk menangkal radikalisme-terorisme di masyarakat," kata mantan kapolda Lampung lulusan Akpol 1985 itu.

Satgas terdiri atas berbagai kalangan antara lain tokoh agama, aparat keamanan seperti Bhabinkamtibmas dan Babinsa, hingga pemuda karang taruna. Satgas aktif blusukan ke masyarakat, termasuk mengunjungi orang baru di daerahnya. Tujuannya untuk deteksi dini jaringan radikal.
Secara berkala, satgas melaporkan evaluasi keamanan kepada kapolres atau dandim. 

Tokoh adat bergelar Gusti Batin Mangkunegara itu menyatakan dalam menjalankan tugasnya, satgas mengedepankan unsur kekeluargaan sehingga masyarakat terbuka. "Anjau silau akan menjadi penangkal radikalisme dan terorisme paling efektif," klaim Ike. /*pur

 

Tidak ada komentar

Tulis Komentar Anda yang Baik & Sopan

Indospace Adalah Jasa All In One Pertama di Bandar Lampung